Kupang (NTT), INANEWS.id - Sejumlah warga di Desa Poto, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, NTT terpaksa berlarian keluar rumah pada Senin malam, 23 Februari 2026 hingga Selasa dini hari, 24 Februari 2026. Kepanikan itu dipicu oleh meluapnya dua sungai, yakni Sungai Nek’oni dan Sungai Oelakobis, yang airnya naik drastis sekitar pukul 23.00 hingga 05.00 WITA dan menggenangi permukiman warga.
Luapan air yang datang secara tiba-tiba membuat masyarakat tidak sempat menyelamatkan banyak barang berharga.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/02/pria-di-bantul-tewas-dibacok-pria.html
Air masuk ke dalam rumah dan menyeret berbagai peralatan rumah tangga seperti ember, mok, piring, sendok, bokor, pakaian, sandal, hingga kursi. Bahkan, beberapa ternak milik warga seperti babi dan ayam turut hanyut terbawa arus.
Sepanjang malam warga tidak dapat memejamkan mata karena harus berjaga sekaligus berupaya menyelamatkan barang yang tersisa.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/02/ramadan-damai-jogja-harmoni-humoriezt.html
Peristiwa tersebut terjadi di wilayah RT 002 dan RT 003 Dusun I Bonatama, Desa Poto. Warga yang terdampak berharap adanya perhatian serius dari pemerintah setempat, mengingat kejadian serupa disebut sudah berulang kali terjadi sejak tahun 2020.
Dalam sebuah video yang diterima oleh Justus Petrus Karma, Koordinator Aliansi Suara Fatbar, ia menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang dialami warga.
Menurutnya, Pemerintah Desa Poto bersama pihak kecamatan perlu segera mengambil langkah konkret, terutama melakukan normalisasi terhadap kedua sungai tersebut agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan masyarakat.
Justus juga mengungkapkan bahwa laporan terkait luapan sungai sebenarnya sudah disampaikan warga kepada pemerintah setempat sejak beberapa tahun lalu.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/02/pedestrian-malioboro-didukung-arus.html
Namun hingga kini, belum terlihat adanya penanganan serius untuk mengatasi persoalan tersebut. Ia menilai, kondisi ini menunjukkan kurangnya respons terhadap keluhan masyarakat yang setiap tahun harus menghadapi ancaman banjir.
Ia menambahkan, pada 7 Februari 2026 lalu, pasca normalisasi Sungai Sumlili, dirinya sempat meminta Pemerintah Desa Poto untuk segera melakukan investigasi langsung ke lokasi sungai Nek’oni dan Oelakobis. Permintaan tersebut bahkan telah disampaikan melalui pemberitaan di sejumlah media.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/02/usai-didesak-terkait-crossway-hargo-dpu.html
Akan tetapi, hingga saat ini belum ada tindak lanjut yang jelas dari pemerintah desa. Masyarakat pun berharap pemerintah tidak tinggal diam melihat penderitaan warganya.
Aliansi Suara Fatbar mendesak agar pemerintah desa dan kecamatan segera mengambil langkah nyata, mulai dari peninjauan lapangan, perencanaan normalisasi, hingga pelaksanaan pengerukan dan penataan alur sungai. Dengan demikian, warga Desa Poto tidak lagi dihantui rasa cemas setiap kali hujan turun deras di malam hari.
(Justus Petrus Karma - Kontributor)


Social Header