INANEWS.id - Disutradarai oleh Bertrand Bonello, Nocturama adalah potret dingin tentang generasi muda yang meledakkan simbol-simbol kekuasaan tanpa pernah benar-benar menjelaskan mengapa.
Film ini dibuka dengan ritme yang nyaris dokumenter. Sekelompok remaja dan dewasa muda bergerak terpisah di berbagai sudut Paris. Kamera mengikuti mereka dalam perjalanan metro, lorong kantor, dan ruang publik, dengan dialog minimal. Tidak ada musik dramatis, tidak ada orasi revolusioner. Hanya persiapan yang presisi dan wajah-wajah yang sulit dibaca.
Serangkaian ledakan kemudian mengguncang kota. Targetnya bukan manusia, melainkan bangunan-bangunan simbolik, institusi negara dan kapital. Namun, alih-alih memperdalam ideologi mereka, film justru mengalihkan fokus ke fase berikutnya: para pelaku bersembunyi di sebuah pusat perbelanjaan mewah pada malam hari.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/02/operasi-keselamatan-progo-2026-tekan.html
Di sinilah ironi bekerja paling tajam. Mereka yang baru saja menyerang sistem, kini berjalan di antara etalase merek-merek mahal. Mereka mencoba pakaian desainer, menyantap makanan premium, menari mengikuti lagu pop. Adegan ketika salah satu karakter bernyanyi mengikuti lagu dari Blondie menjadi momen absurd sekaligus menyentak, sebuah selebrasi konsumsi di tengah proyek penghancuran simbol kapitalisme.
Bonello tidak memberikan manifesto. Tidak ada penjelasan latar belakang yang memuaskan. Tidak ada trauma masa kecil yang dirinci atau doktrin politik yang dipaparkan. Penonton dibiarkan menghadapi kekosongan itu sendiri.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/02/diguyur-hujan-deras-tengah-malam-talut.html
Justru di situlah kekuatan Nocturama. Film ini seperti menyodorkan pertanyaan: bagaimana jika pemberontakan lahir bukan dari ideologi yang matang, melainkan dari kehampaan? Para tokohnya bukan revolusioner klasik dengan bacaan teori yang tebal. Mereka adalah anak-anak kota yang hidup dalam arus kapitalisme, marah padanya, tetapi juga terpesona olehnya.
Secara sinematik, Bonello memilih gaya yang tenang, terukur, dan hampir klinis. Kamera sering bergerak lambat, memberi ruang bagi ketegangan sunyi. Paruh kedua film terasa seperti eksperimen ruang tertutup, mal menjadi metafora sistem yang tak bisa benar-benar mereka tinggalkan. Mereka bisa merusak gedung di luar, tetapi tetap terperangkap dalam logika konsumsi.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/02/nyalip-dari-kiri-di-tikungan-patuk.html
Namun, pendekatan ini juga mengundang kritik. Minimnya pendalaman karakter membuat sebagian penonton merasa teralienasi. Film terasa dingin dan menjaga jarak emosional. Beberapa pihak bahkan menilai estetisasi aksi teror dalam film ini terlalu berisiko, terutama mengingat konteks Prancis yang saat itu masih dibayangi gelombang serangan teror nyata.
Akan tetapi, Nocturama bukan film propaganda dan bukan pula film aksi konvensional. Ia lebih dekat pada studi suasana, potret generasi yang hidup di antara kemarahan dan kekosongan makna.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/02/jelang-ramadhan-polda-diy-sita-3509.html
“Pemberontakan tanpa manifesto” bukan sekadar judul yang pas, tetapi inti dari film ini. Bonello memperlihatkan bahwa di era pasca-ideologi besar, revolusi bisa berubah menjadi gestur, keras, spektakuler, namun rapuh secara konseptual.
Nocturama tidak menawarkan jawaban. Ia hanya meninggalkan gema pertanyaan: Apakah kemarahan tanpa arah adalah bentuk paling jujur dari kegelisahan zaman?
Tulisan dibuat oleh: Ahmad Faisal Ibrahim, Penikmat Cinema atau Cinephile

Social Header