INANEWS.id - Hampir seluruh negara di dunia lebih dari 200 negara dan sekitar 11.000 institusi keuangan terhubung dalam satu jaringan bernama SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication). Angka ini sering dikutip sebagai bukti betapa penting, netral, dan tak tergantikannya SWIFT dalam ekonomi global. Namun justru karena cakupannya yang hampir universal, SWIFT patut dibaca secara kritis, apakah ia benar-benar sekadar infrastruktur teknis, atau telah berubah menjadi instrumen kekuasaan global.
Secara formal, SWIFT hanyalah sistem pesan antarbank. Ia tidak memindahkan uang, tidak memberi pinjaman, dan tidak mengatur kebijakan moneter. SWIFT hanya menyediakan “bahasa” agar bank-bank di dunia dapat saling berkomunikasi. Klaim ini membangun citra SWIFT sebagai lembaga teknis yang netral dan apolitis.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/01/pria-asal-jakarta-timur-ditemukan-tewas.html
Masalahnya, dalam politik-ekonomi global, tidak ada infrastruktur yang sepenuhnya netral. Ketika hampir semua negara dan bank besar dunia bergantung pada satu sistem yang sama, sistem itu otomatis menjadi standar tunggal dan standar selalu mengandung kekuasaan. SWIFT bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan gerbang utama ke dalam sistem keuangan internasional.
Dalam kapitalisme modern, kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memproduksi barang, tetapi oleh siapa yang mengendalikan arus uang, kredit, dan likuiditas. Di sinilah posisi strategis SWIFT. Dengan mempercepat dan menstandarkan sirkulasi keuangan global, SWIFT memperkuat dominasi kapital finansial dan bank-bank besar internasional, sekaligus memperdalam ketergantungan negara-negara berkembang pada sistem yang tidak mereka kendalikan.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/01/kurang-konsentrasi-pengendara-scoopy.html
Dimensi politik SWIFT menjadi sangat jelas ketika akses terhadap sistem ini dijadikan alat sanksi. Pemutusan akses SWIFT terhadap negara tertentu menunjukkan bahwa kekuasaan ekonomi kini dapat dijalankan tanpa perang, tanpa invasi, bahkan tanpa satu peluru pun. Cukup dengan menutup akses ke jaringan keuangan global, sebuah negara bisa didorong ke dalam krisis serius.
Dampak kebijakan semacam ini jarang berhenti pada elite politik. Yang paling cepat merasakannya justru masyarakat luas: inflasi melonjak, nilai tukar tertekan, impor obat dan pangan terganggu, dan daya beli menurun. Dalam praktiknya, SWIFT berfungsi sebagai mekanisme hukuman kolektif, di mana rakyat membayar harga dari konflik geopolitik yang tidak mereka putuskan.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/01/keraton-yogyakarta-serahkan-surat.html
Bagi negara-negara berkembang, partisipasi dalam SWIFT sering dianggap sebagai tanda integrasi global. Namun integrasi ini bersifat asimetris. Negara-negara tersebut ikut menggunakan sistem, tetapi tidak memiliki kendali berarti atasnya. Mereka tunduk pada standar, aturan, dan keputusan yang dibuat di luar jangkauan kedaulatan mereka. Keluar dari SWIFT berarti isolasi ekonomi; tetap di dalamnya berarti menerima risiko tekanan politik. Pilihan yang tersedia bukan antara bebas atau terikat, melainkan antara ketergantungan yang stabil atau ketergantungan yang dihukum.
Munculnya wacana sistem alternatif seperti BRICS Pay atau mekanisme pembayaran bilateral sering dipandang sebagai solusi. Namun persoalan utama bukan semata-mata mengganti SWIFT dengan sistem lain. Selama struktur ekonomi global tetap timpang juga produksi strategis terkonsentrasi, teknologi inti dikuasai segelintir negara, dan perdagangan dunia tidak setara maka alternatif teknis berisiko hanya memindahkan pusat ketergantungan, bukan menghilangkannya.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/01/tabrakan-di-jalan-nglipar-wonosari.html
SWIFT adalah contoh bagaimana infrastruktur teknis dapat menjelma menjadi alat kekuasaan global. Ia menjaga stabilitas sistem keuangan internasional, tetapi sekaligus menciptakan kerentanan politik yang terpusat. Dalam dunia seperti ini, kedaulatan ekonomi tidak lagi ditentukan oleh simbol-simbol formal kenegaraan, melainkan oleh akses terhadap simpul-simpul sistem global. Dan SWIFT adalah salah satu simpul paling menentukan.
Oleh : Ahmad Faisal Ibrahim

Social Header