Gunungkidul (DIY), INANEWS.id - Kalurahan Candirejo Semanu kembali membawa harum nama Kabupaten Gunungkidul di kancah Nasional.
Prestasi itu ditorehkan oleh diraihnya juara satu film 'Mijil' dalam ajang lomba film pendek memperingati hari desa nasional tahun 2026.
Dari film pendek berdurasi 13 menit 29 detik ini menjadi gambaran kondisi kabupaten Gunungkidul yang berjuang merubah stigma negatif sebagai kabupaten yang gersang dan tandus.
film yang diangkat dari kisah nyata tiga pemuda di Kalurahan Candirejo yang menolak meninggalkan kampung halaman dan memilih berjuang merubah mindset masyarakat terhadap kondisi alam yang ada di Kalurahan Candirejo Semanu.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/01/motor-hantam-mobil-di-jalan-yogya.html
Hardi Wintoko, Arif dan Supri menjadi tokoh utama dalam film ini, kegigihan tiga pemuda ini akhirnya mampu menyulap tanah yang dianggap tandus dan tak mampu ditanami menjadi tanah yang produktif dan mampu menghasilkan.
Terbentur, Terbentur, Terbentur, Terbentuk
Film yang diawali dari keresahan para orang tua dimana setiap pemuda yang telah lulus sekolah tingkat atas selalu pergi merantau untuk mencari kehidupan yang dianggap lebih layak, namun tidak demikian untuk Hardi Wintoko, Arif dan Supri. Ketiga anak muda ini berjuang dengan potensi alam yang dimiliki mencoba berbagai usaha peternakan dengan modal yang seadanya.
Ketiga anak muda ini mengumpulkan uang dari para masyarakat dan mencoba memulai beternak kambing komunal, namun dengan pengetahuan beternak yang minim usaha peternakan kambing komunal mereka harus gulung tikar, dikarenakan banyak kambing yang mati.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/01/tragis-motor-ditumpangi-tiga-pelajar.html
Gagal berternak kambing komunal, tiga pemuda ini pun diiming-imingi oleh kelompok penyalur bantuan peternakan ikan lele yang mana modal awal peternakan lele ini harus diupayakan sendiri. namun setelah peternakan lele jadi, bantuan yang dijanjikan tidak semanis bayangan mereka.
kegagalan demi kegagalan sempat menggoyahkan mental ketiga pemuda ini, akhirnya Hardi Wintoko sebagai tokoh utama dalam film ini dengan keterpaksaan dan semangat yang tersisa mulai mengolah lahan milik orangtuanya dengan membudidayakan tanaman holtikultura dengan varietas bawang merah.
Materialisme, Dialektika dan Logika
Berbekal kegagalan, dan proses belajar yang panjang. maka harapan ketiga pemuda ini terhadap pertanian di Gunungkidul menuai hasil.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/01/tak-hanya-lindungi-konsumen-lpksm.html
Ketiga pemuda ini mampu merubah stigma buruk terhadap Kabupaten Gunungkidul, bahkan dari proses kegagalan dan belajar mereka menemukan formula-formula inovasi pertanian yang tidak pernah ada di bangku kuliah fakultas pertanian manapun.
Saat ini Kalurahan Candirejo menjadi sentra bawang merah dan pertanian holtikultura di Kabupaten Gunungkidul. banyak kunjungan studi tiru dari luar Gunungkidul yang ingin belajar oleh ketiga pemuda hebat asal kabupaten yang katanya terkenal tandus ini.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/01/kecelakaan-di-depan-pasar-imogiri.html
Dan pada Hari Desa Tahun 2026 lalu kisah ketiga pemuda hebat ini mendapatkan apresiasi dari Menteri Desa di Boyolali, Jawa Tengah.
Dari kegigihan ketiga pemuda di Kalurahan Candirejo ini kita bisa belajar ketekunan menjalankan proses akan berbuah manis.
Dari kebun bawang merah yang mereka kelola membawa harum tidak hanya Kalurahan Candirejo namun juga Kabupaten Gunungkidul di kancah Pertanian Nasional.
(WAP)

Social Header