Breaking News

Hadiri Rasulan Pakrandu Gombang, Duo Mega Harno Soroti Persatuan dan Pelestarian Budaya Nenek Moyang ‎


Gunungkidul (DIY), INANEWS.id - Budaya menjadi kasta tertinggi dalam pencapaian umat manusia di alam semesta ini bagaimana budaya tidak hanya menjadi hasil karya cipta dan karsa manusia, namun budaya dapat menjadi pererat persatuan sesama manusia.

‎Menjadi pemegang sejatinya keistimewaan Yogyakarta, Kabupaten Gunungkidul masih mempertahankan adat tradisi dari nenek moyang. Hal tersebut di katakan Anggota DPRD Provinsi DIY Suharno, SE., saat membuka pertunjukan wayang kulit dalam rangka ‎rasulan Padukuhan Pakrandu, Kalurahan Gombang, Kapanewon Ponjong. Rabu, (20/5/2026) malam.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/05/api-melalap-rumah-di-panggungharjo.html

"Rasulan ini selain menjadi ungkapan rasa syukur kita atas apa yang telah diberikan Tuhan dan alam semesta kepada kita, dan juga bagaimana rasulan ini bagian dari menjaga tradisi atas peninggalan budaya nenek moyang kita, terlebih dengan rasulan ini kita bisa menyatukan perbedaan menjadi persatuan," kata Suharno di hadapan warga Padukuhan Pakrandu.

‎Tak sendirian Suharno, SE., yang hadir didampingi sang putri Silvia Mega Herminanda Putri S.M yang juga sebagai anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul, Suharno meminta kepada warga di Kalurahan Gombang, Ponjong untuk menjaga dan mempertahankan tradisi Rasulan.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/05/seleksi-jabatan-pimpinan-tinggi.html

"Jaga tradisi ini, karena hanya Kabupaten Gunungkidul yang masih mewarisi adat tradisi dari nenek moyang, tidak ada di Kabupaten lain di Yogyakarta yang masih menjaga tradisi ini," kata Suharno.


Senada dengan Suharno, kepada reporter INANEWS.id, Silvia Mega Herminanda Putri sebagai anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul dirinya mengapresiasi dan mendukung penuh pelestarian budaya Rasulan, terlebih dalam rangkaian kegiatan rasulan penuh dengan pelestarian budaya kesenian lokal.

‎Mega sapaan akrab Silvia Mega Herminanda Putri mengatakan masih ditampilkannya pagelaran wayang menjadi entitas dan identitas sebuah bangsa di tengah modernisasi dan digitalisasi di era kini.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/05/diduga-provokasi-siswa-smk-sekelompok.html

Karena menurutnya pagelaran wayang kulit tidak hanya sebagai sebuah pertunjukan semata namun juga tersirat nilai-nilai kehidupan dalam setiap lakon yang dibawakan.

‎"Wayang kulit itu kan warisan budaya dari hasil cipta, karsa dan rasa manusia ya, yang mana nenek moyang kita dari hasil karsa dan rasanya terciptalah menjadi pertunjukan wayang kulit, yang bisa kita nikmati malam ini," kata Silvia Mega.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/05/polres-bantul-gaungkan-gerakan-orang.html

Silvia Mega juga menyoroti bagaimana peradaban nenek moyang yang bisa menciptakan orkestrasi gamelan yang memiliki ritme pelok dan selendro, pentatonik dan diatonik dalam sebuah pertunjukannya. Menurutnya, ini sebuah perwujudan tingginya peradaban nenek moyang di tanah Nusantara pada masa itu. sehingga ia menilai sudah sepantasnya manusia Jawa di era modern ini tetap melestarikan budaya peninggalan nenek moyang.

‎Dalam Pagelaran wayang kulit di Padukuhan Pakrandu ini, Dalang Ki Supomo Suryo Guritno (Degleng) membawakan lakon Wahyu Puspo Manunggal.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/05/dua-pengendara-motor-luka-akibat.html

‎Di waktu yang sama Lurah Gombang Supriyanto mengatakan kepada INANEWS.id bangga karena Rasulan pada tahun ini dihadiri langsung oleh duo Mega Harno.

‎"Ini Rasulan yang berkesan bagi saya dan masyarakat saya Padukuhan Pakrandu, karena dihadiri oleh Dua anggota DPRD lintas generasi Mega Harno, saya sangat berterima kasih atas kehadiran beliau berdua," ucap Lurah Gombang Supriyanto.

‎(WAP)

© Copyright 2022 - INANEWS