INANEWS.id - Beredar di story WhatsApp warga terkait video yang mengatakan film dokumenter Pesta Babi besutan sutradara Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale adalah kebohongan belaka.
Dalam Video pendek berdurasi 02.20 menit ini seorang pria paruh baya yang mengungkap fakta bahwa tokoh pemeran yang bernama Yasinta yang sosoknya juga dijadikan cover dalam film dokumenter ini ternyata ditipu oleh si film marker.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/05/ngobrol-bareng-stak-yogyakarta.html
Didalam video itu Sosok Yasinta Moiwend warga asli Papua ini mengatakan bahwa dirinya tidak tahu bahwa dirinya akan dijadikan salah satu tokoh narasumber dalam film dokumenter Pesta Babi ini.
"Itu film dari Pesta Babi tanpa izin dari saya, tanpa sepengatahuan saya. Saya kaget pas film itu diputar. Apakah saya boneka atau ukiran dari Asmat, yang ditampilkan tanpa sepengetahuan saya tanpa izin dari saya," kata Yasinta Moiwend Narasumber dari film dokumenter Pesta Babi seperti dalam Video pendek yang beredar di story WhatsApp warga.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/05/kecelakaan-tunggal-di-bantul-pemotor.html
Yasinta Moiwend dalam wawancara dengan sebuah media mengatakan agar pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang memampang wajahnya untuk segera dihentikan.
"Film itu dihentikan, karena itu tanpa izin saya, kenapa saya punya wajah ditampilkan terus, saya tidak mau," pinta Yasinta Moiwend dengan geram.
Yasinta Moiwend juga mengatakan dirinya tidak mendapatkan keuntungan dari pemutaran film dokumenter tersebut, bahkan ucapan terima kasih pun tidak dilayangkan oleh pembuat film dokumenter Pesta Babi.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/05/dapat-peringkat-kedua-lomba-perpuskal.html
"Terus mereka sudah putar film itu di mana-mana, apa yang saya dapat, ucapan terima kasih pun tidak, saya kecewa," ucap Yasinta Moiwend.
Adapun narator video pendek tersebut dengan akun @ahmadalimuddin ini mempertanyakan motif pembuatan film dokumenter Pesta Babi yang saat ini sedang gencar diputar secara masif di sejumlah kelompok masyarakat dan di kampus-kampus.
"Menyedihkan, Yasinta yang menjadi di film Pesta Babi mengaku dijebak," kata narator di awal video pendeknya.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/05/ugm-dan-dewan-jamu-diy-kampanyekan.html
Narator juga mempertanyakan tujuan dari para film maker yang mengedepankan penderita masyarakat adat Papua terhadap pembukaan lahan besar-besaran oleh pemerintah pusat.
"Salah satu hal penting yang menyedihkan dari polemik film Pesta Babi bukanlah isi filmnya, tapi pengakuan seorang tokoh adat Papua yang bernama Yasinta Moiwend yang mengaku merasa dijebak, bahkan wajahnya dan identitasnya digunakan tanpa sepengetahuannya," ujar Narator.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/05/lomba-perpus-dispussip-resmi-ditutup.html
"Ini bukan sekedar sebuah persoalan film, ini persoalan martabat seorang manusia, ini persoalan harga diri masyarakat adat Papua. Karena selama ini publik selalu disuguhi narasi bahwa semua dilakukan demi rakyat dan masyarakat Papua, demi masyarakat adat, demi Tanah Ulayat, demi orang asli Papua," jelasnya dalam video berdurasi 02.20 menit.
Kepada publik, narator mengajak untuk mempertanyakan sebenarnya film maker sedang membela kepentingan siapa, menurut narator membela hak masyarakat Papua tidak cukup dengan memampang wajah mereka atau membawa nama mereka.
(ALX)

Social Header