Gnungkidul (DIY), INANEWS.id - Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P., meninjau kegiatan penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) secara aktif (active case finding/ACF) yang berlangsung di halaman Puskesmas Karangmojo II, Gunungkidul, pada Kamis (9/4/2026) pagi.
ACF yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul bekerja sama dengan Zero TB Yogyakarta ini menjadi pembuka dari rangkaian 30 ACF yang akan digelar di seluruh puskesmas di wilayah Gunungkidul.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/dampak-godzilla-elnino-1765-warga.html
Tinjauan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia yang dipusatkan di Balai Budaya Kalurahan Bejiharjo, tak jauh dari lokasi pelaksanaan ACF. Dalam sambutannya, Bupati menyebut kegiatan ACF sebagai langkah jemput bola untuk penemuan orang yang sakit TBC.
“ACF ini merupakan langkah yang strategis dan progresif,” ucapnya seraya berpesan agar jajarannya tidak hanya menunggu pasien datang berobat.
Bupati mengapresiasi pelaksanaan ACF yang menargetkan 3.000 warganya.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/sopir-taksi-online-ditemukan-meninggal.html
“Alat-alatnya canggih. Lima menit foto paru-parunya bisa langsung dibaca,” jelasnya.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu mengikuti kegiatan ini dan meyakinkan bahwa partisipasi dalam acara ini tidak dipungut biaya.
Lebih lanjut, Bupati menyebut kasus TBC ini sebagai fenomena gunung es, dimana kasus yang terdeteksi saat ini hanyalah bagian kecil dari keseluruhan kasus yang ada di masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, S.SI.T, M.Kes menyampaikan bahwa penemuan kasus TBC di wilayahnya baru tercapai 43 persen dari estimasi kasus yang ditargetkan.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/waspada-arus-balik-3-wisatawan-terseret.html
“ACF ini melengkapi metode passive case finding yang selama ini dilakukan,” jelasnya.
Kegiatan ACF yang dilakukan Zero TB Yogyakarta menggunakan Rontgen dada untuk meningkatkan peluang penemuan kasus TBC.
“Orang-orang yang bahkan tidak bergejala, nanti bisa ketahuan dari Rontgen-nya,” jelas dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D, Sp.A(K), Direktur Zero TB Yogyakarta.
Jika hasil Rontgen menunjukkan adanya dugaan TBC, maka pemeriksaan dilanjutkan dengan tes dahak guna memastikan diagnosis.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/tabrakan-maut-di-rejowinangun-pemotor.html
dr. Rina menambahkan bahwa ACF penting dilakukan untuk menemukan pasien TBC secara dini di masyarakat, agar dapat segera mendapatkan pengobatan sehingga mengurangi risiko penularan dari pasien TBC yang belum terdiagnosis di masyarakat.
Untuk mewujudkan eliminasi TBC yang ditargetkan tercapai pada tahun 2030, penemuan kasus TBC secara aktif menggunakan Rontgen dada merupakan salah satu upaya yang harus digalakkan.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/mahasiswa-asal-jepara-ditemukan.html
Selain penemuan kasus secara aktif, upaya ini juga perlu diimbangi dengan pemberian obat yang tepat dan langkah pencegahan, antara lain dengan pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT). Terapi pencegahan ini diberikan kepada individu yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC untuk mencegah berkembangnya penyakit. Melalui kombinasi penemuan kasus secara aktif, pengobatan.
(WAP)

Social Header