Gunungkidul (DIY), INANEWS.id - Gotong royong telah menjadi akar budaya masyarakat di Indonesia dalam hal sosial kemasyarakatan, baik masyarakat yang ada di perkotaan terlebih masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Menjadi akar yang kuat gotong royong tidak hanya bicara pembangunan fisik saja namun juga kegiatan-kegiatan kearifan lokal lainnya, salah satunya seperti acara hajatan yang sering dilakukan oleh masyarakat di pedesaan.
Kepala desa atau Lurah menjadi tokoh sentral dalam mengerjakan kearifan lokal dalam kegiatan gotong royong di pedesaan, kehadirannya menjadi titik sentral dalam terselenggaranya kegiatan tersebut.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/scoopy-tabrakan-dengan-isuzu-di-jalan.html
Namun keberadaan lurah tidak lah harus menjadi front line saja, namun bisa juga mensejajarkan dengan masyarakat lainnya dalam kegiatan gotong royong upacara hajatan di desa-desa.
Hal tersebut seperti yang dicontohkan oleh Sunaryo salah satu lurah (Kepala Desa) di Kalurahan Pilangrejo, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. yang mana dirinya selalu mensejajarkan dengan warganya dalam kegiatan gotong royong upacara hajatan.
Baginya, walaupun dirinya sebagai tokoh sentral di Kalurahan Pilangrejo, peran dalam 'Ewoh' (Upacara Hajatan) tidak selalu menjadi 'Among Tamu' (penyambutan para tamu).
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/penganiayaan-di-baciro-yogyakarta-dua.html
"Kalo saya terus tidak mentang-mentang saya Lurah harus jadi Among Tamu (penerima tamu) tapi isah-isah atau gawe wedang yo gelem," kata Sunaryo kepada reporter INANEWS.id di salah satu tempat hajatan warganya. Sabtu, (25/4/2026).
Menurutnya dirinya malah harus menjadi suri tauladan bagi masyarakat nya, terlebih jabatan sebagai lurah adalah jabatan politik yang ditentukan langsung oleh masyarakat.
"Kami ini Pamong artinya 'pa momong' orang yang bisa momong masyarakat, selain mengatur masyarakat dengan peraturan di sisi lain juga harus ikut dengan aturan masyarakat itu sendiri," ujarnya.
(WAP)

Social Header