Gunungkidul (DIY), INANEWS.id - Hari lahir Raden Ajeng (RA) Kartini pada 21 April selalu diperingati pada wanita di Indonesia yang mana RA Kartini menjadi simbol perlawanan kaum perempuan dalam memperjuangkan hak-hak di masa kolonial Belanda dan juga kesamaan gender.
Peringatan tersebut terlihat pula di Kalurahan Ngipak, Karangmojo yang mana sejumlah para pengajar paud dan TK beserta peserta didiknya memperingati pahlawan emansipasi wanita ini di balai Kalurahan Ngipak, pada Selasa, (21/4/2026) kemarin.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/hindari-dua-mobil-di-jalan-sempit.html
Lurah Ngipak Bambang Setiawan yang ditemui oleh reporter INANEWS.id mengatakan bahwa kegiatan yang selenggarakan oleh Himpaudi dan para pendidik taman kanak-kanak se-Kalurahan Ngipak ini menjadi momentum pembelajaran bagi generasi penerus.
"Momentum seperti ini menjadi salah satu pembelajaran bagi generasi mendatang, terlebih perkembangan jaman yang juga sangat pesat seperti sekarang ini," kata Bambang.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/tragis-petani-di-bantul-meninggal.html
Bambang juga mengatakan kebebasan kaum wanita untuk memiliki profesi seperti yang dimiliki oleh kaum pria ini bagian dari cikal bakal perjuangan Kartini dalam mengangkat harkat dan martabat wanita Indonesia.
Bambang melanjutkan kendati dalam sejarah nya RA Kartini diakhir hidupnya belum sepenuhnya memberikan perlawanan yang maksimal kepada otoritas budaya feodalisme pada waktu itu, namun RA Kartini mampu menjadi pemantik perlawanan kaum wanita dalam memperjuangkan hak-hak nya.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/rokok-ilegal-marak-satpol-pp-bea-cukai.html
Dalam peringatan Hari Kartini di Kalurahan Ngipak para peserta didik tidak hanya di perkenalkan dengan sosok RA Kartini namun juga mendengar dongen kisah perjuangan Kartini dari masa lahir tubuh kembang hingga akhir hayatnya.
Terkait dengan penampilan dongeng dalam Hari Kartini, Bambang mengatakan bahwa budaya bertutur masyarakat Indonesia saat ini sudah sangat berkurang, sehingga budaya bertutur melalui dongeng harus mulai di biasakan lagi.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/04/harlah-fkprn-di-kali-code-dorong.html
"Kalau orang tua saya dulu itu mengajarkan unggah-ungguh dan tata krama itu melalui media mendongeng, saya rasa hari ini mendongeng masih sangat relevan untuk memberikan pengetahuan bagi generasi kita di usia dini, karena imajinasi meraka ini masih lah sangat kuat, jadi selain kita memperkenal tokoh-tokoh hebat, kita juga bisa membiasakan para orang tua mengupdate literasi khususnya para pengajar paud maupun taman kanak-kanak," tutup Bambang.
(WAP)

Social Header