Breaking News

Ini Pesan Bupati dalam Lustrum IV Paroki St. Petrus & Paulus Kelor ‎


Gunungkidul (DIY), INANEWS.id - Lustrum Ke IV (20 tahun) Paroki St. Petrus & Paulus Kelor menggelar tirakatan dan kenduri doa bersama lintas iman, di pendopo Santo Matius, Paroki St. Petrus & Paulus Kelor. Sabtu, (1/9/2026) malam.

‎Hadir dalam Lustrum ke IV Paroki St. Petrus & Paulus Kelor Panewu Karangmojo Emmanuel Krisna Juwoto bersama dengan Danramil dan juga Kapolsek Karangmojo, hadir pula Lurah Kelor Suratman berserta para jajaran pemerintah Kalurahan Kelor.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/08/kecelakaan-adu-banteng-di-playen.html

Tak hanya dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kapanewon dan Kalurahan saja, Lustrum ke IV Paroki St. Petrus & Paulus juga dihadiri oleh Staf Ahli Bupati Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik Johan Eko Sudarto, S.Sos., M.H., mewakili Bupati Gunungkidul dan juga tokoh lintas agama.

‎Bupati Gunungkidul dalam sambutannya surat yang dibacakan Staf Ahli Bupati Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik Johan Eko Sudarto, S.Sos., M.H., mengatakan selain memberikan selamat kepada keluarga Paroki St. Paulus & Petrus Kelor, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga menyampaikan kenduri lintas agama menjadi forum kebersamaan menunjukkan bahwa kerukunan bukan hanya sebagai slogan, melainkan nilai yang benar-benar dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/08/ini-alasan-kadipaten-pakualaman-lakukan.html

"Kenduri adalah warisan budaya Nusantara yang sarat makna, didalamnya terdapat nilai syukur, kebersamaan, kesetaraan, gotong royong dan saling menghormati, ketika seluruh element masyarakat duduk bersama tanpa memandang perbedaan agama dan latar belakang, sesungguhnya kita sedang merawat modal sosial yang sangat berharga bagi kemajuan Gunungkidul," kata Bupati Gunungkidul dalam suratnya yang dibacakan Johan Eko Sudarto.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/08/kecelakaan-beruntun-libatkan-tiga.html

Bupati dalam suratnya juga mengatakan Gunungkidul patut bersyukur karena selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan umat beragama. Kondisi yang harmonis ini tentu bukan hadir dengan sendirinya melainkan buah dari komitmen seluruh element masyarakat untuk terus membangun dialog, saling menghormati dan menjaga persaudaraan.


Sementara itu Romo Paroki St. Petrus & Paulus Kelor, Markus Januarta Pr dalam sambutannya mengatakan berangkat dari tema Lustrum ke IV (M) Urup (ME) Nyala, yang dimaknai perubahan kata pasif menjadi kata aktif, sehingga menurutnya Paroki St. Petrus & Paulus Kelor akan membuka kurung yang dimaknai sebagai penghalang atau pun tembok, menjadi kebangkitan iman yang telah dimiliki semua umat untuk semakin lebih murup atau menyala.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/07/jambret-tas-pesepeda-di-jembatan.html

"Tentu kami diingatkan ajaran Tuhan, bahwa iman tanpa tindakan nyata dalam perbuatan baik dan perbuatan mulia itu pada dasarnya iman yang mati. Maka iman bukan semata-mata gerakan ke dalam namun harus sampai pada gerakan keluar yang salah satu iman yang berbuah salahsatunya dalam bentuk persaudaraan dan akhirnya kepada bela rasa kepada sesama," kata Romo Nanung panggilan akrab Markus Januarta Pr.

‎Romo Nanung juga melanjutkan iman yang menyala membakar semangat untuk mengutamakan persaudaraan.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/07/ini-alasan-abdi-dalem-kadipaten.html

‎"Kami ingin bersahabat kepada banyak orang, dan malam ini kita duduk dan berdoa sebagai bukti dengan kenduri lintas iman ini sebagai wujud sebagai iman yang berbuah," tuturnya.

‎Dalam rangakaian Lustrum ke IV Paroki St. Petrus & Paulus Kelor selain mengeylar doa lintas iman, pada hari Minggu juga akan digelar pagelaran wayang kulit.

(WAP)

© Copyright 2022 - INANEWS