Gunungkidu (DIY), INANEWS.id – Hadir dalam peringatan HUT Kabupaten Gunungkidul yang ke-196, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul agar tidak menggantungkan harapan pembangunan ekonomi daerah pada industrialisasi.
Sultan meminta agar pemerintah daerah mengoptimalkan potensi pertanian, dengan mengoptimalkan pengelolaan hasil panen menjadi produk bernilai tambah, serta membuka sumber pendapatan baru bagi petani.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/polres-bantul-ungkap-dugaan-peredaran.html
Sultan menilai, penguatan sektor pertanian menjadi pilihan strategis karena daerah memiliki sumber daya alam dan potensi tanaman yang dapat menopang perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.
Sultan menegaskan, industrialisasi tidak serta-merta menjamin pemerataan kesejahteraan masyarakat. Ketergantungan pada investor justru dapat membatasi ruang gerak daerah ketika kemampuan mendatangkan modal dan keputusan investasi berada di luar kendali pemerintah setempat.
“Saya kira, jangan berharap industrialisasi ya, karena dengan industrialisasi tergantung pada kemauan dari investor,” tegas Sultan.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/toyota-agya-tabrak-truk-bermuatan-pasir.html
Sultan, mengingat harapannya saat Gunungkidul masih di jabat Bupati Suharto, dimana Gunungkidul harus memelihara Dewi Sri, dimana produk-produk sektor pertanian menjadi andalan Kabupaten Gunungkidul.
Dimana pengembangan sektor pertanian sebagai unggulan, sekaligus mendorong pengolahan hasil produksi agar petani tidak hanya menjual komoditas mentah dengan nilai ekonomi terbatas.
Sultan juga berharap daerah dapat menciptakan pertumbuhan melalui pengelolaan sumber daya lokal, peningkatan produktivitas lahan, dan pengembangan usaha yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/diduga-mengantuk-honda-accord-tabrak.html
“Jadi yang penting kalau saya ya seperti harapan saya kepada Pak Harto (Bupati Gunungkidul beberapa periode sebelumnya), udahlah kita anggap Dewi Sri di Gunungkidul,” ungkap Sultan.
Sultan kemudian menekankan pentingnya mengembangkan hasil pertanian menjadi produk yang mampu meningkatkan pendapatan petani. Menurut dia, pemerintah tidak cukup hanya mendorong masyarakat menanam dan memanen komoditas pertanian. Pemerintah juga perlu membuka jalan bagi pengolahan hasil panen agar produk lokal memiliki nilai jual lebih tinggi.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/lansia-di-gedangsari-gunungkidul.html
“Jadi ya lari ke produk-produk pertanian bisa menjadi produk yang meningkatkan perekonomian petani,” lanjutnya.
Sultan menilai, penguatan sektor pertanian sekaligus memberikan ruang bagi Gunungkidul untuk membangun ekonomi berdasarkan karakteristik wilayahnya. Pemerintah daerah perlu memetakan komoditas potensial, meningkatkan pemanfaatan lahan, serta mendorong inovasi agar hasil pertanian mampu memberikan keuntungan yang lebih besar bagi masyarakat.
“Jadi tenaga kerja kan kita masuk di sektor itu. Manfaatkan secara efisien bagaimana tanaman-tanaman yang ada,” ujar Sultan.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/honda-scoopy-tabrak-truk-parkir-di.html
Menyoroti maraknya kebakaran hutan jati, Sultan meminta agar masyarakat mampu mengoptimalkan lahan yang ada. Ia menilai, tumpukan daun kering yang jatuh di lahan dapat menjadi bahan mudah terbakar ketika memasuki musim kemarau.
“Makanya saya pesan sama Bu Bupati, daripada ada kebakaran hutan karena mayoritas itu jati kebon, jadi mestinya daun-daun yang jatuh kering itu dibersihkan,” kata Sultan.
“Kalau tidak dibersihkan maka tegesan (puntung rokok) saja bisa menyebabkan kebakaran karena kering,” imbuhnya.
(WAP)

Social Header