Gunungkidul (DIY), INANEWS.id - Gelar potensi kalurahan rintisan budaya menjadi ajang bergengsi bagi kalurahan berstatus kantong budaya maupun rintisan budaya dalam mempertontonkan potensi yang ada di wilayahnya.
Salah satu kalurahan yang mengikuti ajang bergengsi ini adalah Kalurahan Kemejing dari Kapanewon Semin, dari pantauan Reporter INANEWS.id di lapangan pada Kamis, (29/10/2026) malam. Kalurahan Kemejing banyak dipadati oleh pengunjung yang ingin melihat dari dekat dan mengenal potensi dari kalurahan tersebut.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/tabrak-pemotor-hingga-meninggal-di.html
Tak hanya warga lokal Saptosari yang memadati stand Kalurahan Kemejing, warga asal Kalurahan Kemejing juga ikut memadati stand tersebut untuk memberikan dukungan kepada kalurahannya.
Lurah Kemejing, Sugiyarto mengatakan kepada Reporter INANEWS.id bahwa warganya yang hadir ke ajang gelar potensi sengaja memobilisisr dirinya secara mandiri untuk melihat potensi kalurahannya digelar potensi pada tahun ini.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/kapolda-diy-minta-warga-waspadai.html
"Alhamdulillah warga kami banyak yang hadir untuk mendukung kami, pemerintah Kalurahan Kemejing dalam gelopo (gelar potensi) di Kapanewon Saptosari dan mereka memobilisasi dirinya dengan biaya sendiri, jadi mereka menyewa mobil sendiri urunan, dan juga menyiapkan bekal makanan sendiri," kata Sugiyarto.
Sementara itu Carik Kemejing Wisti Agnita Putrantia kepada reporter INANEWS.id membeberkan potensi yang dimiliki Kalurahan Kemejing. Dari potensi Kuliner Wisti memperkenalkan Jadah Tiwul dimana makanan khas Jawa ini biasanya dibuat dari beras ketan namun Kalurahan Kemejing memodifikasi panganan khas ini dengan bahan Tiwul yang menjadi makan khas masyarakat Gunungkidul.
"Kalo dari makanan atau kuliner kami menampilkan Jadah atau Uli kalo di daerah lain namanya, dengan berbahan baku Tiwul, jadi biasanya Jadah ini kan berbahan baku beras ketan, namun kami memodifikasi dengan Tiwul," jelas Wisti.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/hendak-mendahului-mobil-di-tikungan.html
Wisti melanjutkan dari potensi kesenian Wisti mengatakan Kalurahan Kemejing memiliki kesenian Thetelan sebuah seni pertunjukan mirip dengan Kethoprak namun di padupadankan dengan kreasi khas masyarakat Kalurahan Kemejing.
"Untuk kesenian Thetelan ini kami bisa menjelaskan sejarahnya, seni ini dipelopori oleh seorang warga bernama Pawiro Semito. Karena pada awal perkembangannya kelompok ini harus berjalan kaki sangat jauh demi mencari nafkah, tokoh perempuan awalnya diperankan oleh laki-laki. Namun, saat ini peran perempuan sudah digantikan kembali oleh pemeran perempuan asli," kata Wisti.
Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/mensuritauladani-sumpah-pemuda-eko.html
Wisti juga mengklaim bahwa kesenian Thetelan ini ada sejak tahun 1948, kata Thetelan berasal dari istilah bahasa Jawa nithili, yang berarti mengambil sedikit-sedikit. Nama ini disematkan karena kesenian ini merupakan hasil kombinasi atau gabungan dari serpihan elemen 4 kesenian lain, yaitu ludruk, ketoprak, wayang orang, dan langendriyan.
Pementasannya menyajikan seni pertunjukan yang komplet. Didalamnya terdapat unsur joget (tarian), tembang (nyanyian), dan dialog yang diiringi oleh gamelan Jawa, khususnya Gending Théthal-thèthèl laras slendro patet manyura. Lakon atau cerita yang biasa dibawakan dalam dramatari ini mengadopsi Cerita Panji serta kisah-kisah rakyat seperti "Sedumuk Bathuk Senyari Bumi".
(WAP)


Social Header