Breaking News

Pemprov DIY, Densus 88, Satgaswil, BNPT dan YPP Perkuat Mekanisme Pemulihan dan Resiliensi Anak Korban Jaringan Ekstremisme


Yogyakarta, INANEWS.id - Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Direktorat Idensos Densus 88 AT Polri, BNPT, Satgaswil DIY, dan Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) memperkuat sinergi dalam upaya pemulihan dan penguatan resiliensi anak korban jaringan kekerasan ekstremisme.

Penguatan sinergi tersebut dibahas dalam audiensi yang berlangsung di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (7/10/2026). Pertemuan menjadi bagian dari rangkaian upaya untuk memperkuat mekanisme penanganan anak melalui keterlibatan pemerintah daerah, aparat, sekolah, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat sipil.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/truk-bermuatan-kayu-terguling-di-jalan.html

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pertemuan adalah pentingnya SOP sebagai pedoman bersama dalam proses penanganan dan pemulihan anak. Hal ini diperlukan untuk menyamakan persepsi dan memperjelas langkah penanganan, mengingat kapasitas layanan dan sumber daya di masing-masing kabupaten/kota di DIY berbeda.

“Yang terpenting adalah SOP. Bagaimana penyelamatannya, bagaimana pendekatan lintas level diarahkan untuk pemulihan.”

Dalam penguatan mekanisme tersebut, para pihak mendorong optimalisasi berbagai modalitas yang telah tersedia di DIY, sehingga penguatan penanganan tidak harus dilakukan dengan membangun sistem baru.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/jelang-psim-vs-persija-900-personel.html

“Tidak perlu membuat yang baru, kita maksimalkan yang sudah ada. Utamanya adalah mengenai SOP, perlu penyamaan persepsi terkait penggunaan bahasa yang sama.”

Pendekatan pemulihan juga dinilai perlu melibatkan lingkungan terdekat anak, termasuk sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial. Selain pendekatan formal, penguatan pendekatan kultural menjadi bagian penting dalam membangun dukungan terhadap anak.

“Pendekatan formal perlu diimbangi dengan pendekatan kultural.”

“Tiga pilar Ki Hajar Dewantara: sekolah, lingkungan, keluarga yang harus saling menopang.”

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/dandim-gunungkidul-hadiri-pengukuhan.html

Sejumlah modalitas yang telah tersedia di DIY turut menjadi bagian dari pembahasan, salah satunya TESAGA, yang menyediakan kanal bagi anak sekolah dan keluarga untuk menyampaikan keluhan melalui WhatsApp dan Instagram serta terhubung dengan konselor dan PUSPAGA. Modalitas tersebut dinilai dapat terus diperkuat untuk mendukung respons terhadap kebutuhan anak, termasuk ketika diperlukan layanan psikologis maupun rujukan lanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, YPP menyampaikan dukungan untuk memperkuat modalitas yang telah dimiliki DIY, termasuk penguatan fungsi Satgas dan mekanisme rujukan.

“YPP akan mengaktivasi dan memperkuat modalitas yang sudah ada di provinsi.”

“Memperkuat fungsi Satgas untuk support Satgas punya alat kerja yang disebut mekanisme rujukan.”

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/kapolda-diy-irjen-langgeng-purnomo.html

Penguatan mekanisme pemulihan juga mencakup aspek kesehatan jiwa anak serta dukungan terhadap implementasi RAD Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAD PE) di DIY.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga menjadi salah satu peluang yang dibahas, khususnya dengan perguruan tinggi yang memiliki sumber daya di bidang psikologi. Keterlibatan akademisi dapat diarahkan pada pengembangan pola parenting, penguatan kohesi sosial, serta pemanfaatan program pengabdian kepada masyarakat.

“Kesempatan dengan kampus-kampus psikologi, bagian mana yang bisa dimanfaatkan. Mungkin pengabdian masyarakatnya.”

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/man-3-sragen-pptq-it-nurul-huda-amanah.html

Penguatan sinergi tersebut selanjutnya akan dilanjutkan melalui Focus Group Discussion (FGD) pada 8 Oktober 2026. FGD akan mempertemukan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, Densus 88 AT Polri, Satgaswil DIY, YPP, tim psikologi forensik, serta pemangku kepentingan terkait untuk membahas penguatan mekanisme pemulihan dan resiliensi anak.

Melalui rangkaian tersebut, para pihak mendorong agar berbagai modalitas yang telah tersedia di DIY dapat terhubung dalam mekanisme yang lebih terkoordinasi, sehingga penanganan anak dapat dilakukan secara lebih tepat mulai dari identifikasi, pendampingan, rujukan hingga pemulihan.

(ALX)

© Copyright 2022 - INANEWS