Breaking News

Wisata Pucung Gunungkidul Bersiap Naik Kelas, Ini Catatan Penting GKR Bendara ‎


Gunungkidul (DIY), INANEWS.id – Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (Dispar DIY) kembali melakukan evaluasi dan klasifikasi desa wisata sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas destinasi wisata agar semakin berdaya saing. Evaluasi kali ini menyasar Desa Wisata Pucung atau Dewi Purbo dan Desa Wisata Wota Wati di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Senin (5/10/2026).

Kegiatan klasifikasi tersebut tidak hanya berorientasi pada pemenuhan persyaratan administratif. Tim melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap sejumlah aspek fundamental pengelolaan desa wisata, mulai dari kelembagaan, atraksi, amenitas, hingga strategi pemasaran.

Hasil evaluasi nantinya menjadi dasar untuk memetakan status desa wisata dalam empat hierarki, yakni Rintisan, Berkembang, Maju, dan Mandiri.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/hut-ke-81-tni-dandim-gunungkidul.html

Evaluasi kali ini dipimpin langsung Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara selaku Ketua Tim Pokja sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY. Tim juga melibatkan berbagai unsur Pentahelix, mulai dari akademisi, praktisi, pengelola desa wisata unggulan, hingga kalangan industri pariwisata.

Dalam kunjungannya, GKR Bendara tidak hanya melakukan penilaian terhadap kesiapan destinasi, tetapi juga memberikan sejumlah masukan strategis, khususnya terkait branding dan komersialisasi.

Menurutnya, potensi alam dan budaya yang dimiliki desa wisata harus dikemas secara kreatif sehingga memiliki nilai jual dan pembeda dibandingkan destinasi lainnya.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/polisi-razia-10-lokasi-di-bantul-283.html

GKR Bendara memberikan sejumlah arahan kepada pengelola Dewi Purbo. Pertama, pengelola perlu mempertajam Unique Selling Proposition (USP) dengan menciptakan paket wisata yang spesifik, unik, dan memiliki diferensiasi.

Ia mencontohkan atraksi bermain gamelan yang dinilai sudah banyak ditawarkan desa wisata lain. Karena itu, Dewi Purbo perlu menghadirkan pengalaman wisata yang memiliki ciri khas tersendiri.

"Siapkan paket-paket yang unik. Jika hanya menawarkan atraksi menggamel (bermain gamelan), di desa wisata lain sudah sangat banyak. Harus ada diferensiasi," tegas GKR Bendara.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/dua-motor-tabrakan-di-kepek-wonosari.html

Untuk langkah kedua, GKR Bendara mengatakan Dewi Purbo harus didorong membangun kemitraan strategis dengan pelaku usaha perjalanan wisata atau travel agent. Salah satu strategi yang disarankan adalah memberikan program familiarization trip kepada perwakilan travel agent terpilih sebagai bagian dari upaya memperluas pasar.

Adapun langkah yang ketiga, bagaimana pengelola juga disarankan memiliki anggaran pemasaran yang berkelanjutan. Salah satu rekomendasinya adalah mengalokasikan sekitar empat persen dari laba tahun sebelumnya untuk kebutuhan promosi.

Sedangkan langkah yang ke empat, aspek visual promosi juga menjadi perhatian. Di tengah semakin masifnya pemasaran digital, materi promosi dalam bentuk brosur fisik yang informatif dan memiliki standar visual yang baik dinilai tetap diperlukan.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/grembyangan-training-paddle-diluncurkan.html

Dewi Purbo direkomendasikan melakukan studi tiru terhadap standar brosur yang dimiliki Desa Wisata Jatimulyo.

Selain strategi pemasaran, GKR Bendara juga mengingatkan pengelola destinasi untuk menerapkan manajemen risiko dalam setiap pembukaan destinasi wisata. Ia menyarankan agar destinasi tidak langsung melakukan grand opening, tetapi terlebih dahulu menjalani soft opening.

‎"Peluncuran destinasi harus terukur. Lakukan soft opening terlebih dahulu, perbaiki setiap evaluasi layanan, dan setelah semuanya sempurna, barulah eksekusi grand opening," pesannya.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/tukar-informasi-ksb-marga-jaya-kunjungi.html

Sementara itu, Panewu Anom Girisubo, Hari Susanto, S.T., M.Eng., menyambut positif pelaksanaan evaluasi dan klasifikasi yang dilakukan Dispar DIY tersebut. Ia berharap Dewi Purbo mampu meningkatkan statusnya dari kategori Berkembang menjadi Maju.

Namun demikian, Hari menegaskan bahwa peningkatan status desa wisata tidak boleh berhenti pada pencapaian administratif maupun kebanggaan atas sebuah predikat.

Menurutnya, keberhasilan desa wisata harus diukur dari sejauh mana keberadaan destinasi mampu memberikan dampak langsung terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/10/heboh-video-viral-13-remaja-diamankan.html

"Predikat ini tidak boleh hanya indah di atas kertas atau sekadar hitam di atas putih. Status desa wisata harus bertransformasi menjadi manfaat nyata. Indikator kesuksesan sebenarnya adalah ketika perputaran ekonomi di Pucung meningkat signifikan dan masyarakat sekitar semakin sejahtera," ujar Hari.

Ke depan, Hari juga mengungkapkan visi untuk membangun ekosistem pariwisata yang terintegrasi di wilayah Kapanewon Girisubo. Ia berharap seluruh kalurahan di Girisubo nantinya mampu memenuhi kualifikasi sebagai desa wisata.

"Misi utama kita adalah mewujudkan sebuah ekosistem pariwisata yang terintegrasi, elegan, dan berkelas di kawasan paling timur Gunungkidul," pungkasnya.

(WAP)

© Copyright 2022 - INANEWS