Breaking News

‎Lustrum IV Paroki St. Petrus & Paulus Kelor dan Sejarah Singkatnya


Gunungkidul (DIY), INANEWS.id - Lustrum Ke IV (20 tahun) Paroki St. Petrus & Paulus Kelor dengan mengusung tema (M)urup (ME)nyala diharapkan bisa memberikan kontribusi kepada persaudaraan antar umat beragama di Kabupaten Gunungkidul.

Berikut sejarah singkat berdirinya Paroki St.Petrus & Paulus Kelor

‎Masuknya iman katolik di daerah Gunungkidul bagian Timur, Timur Laut dan Utara dapat dibagi menjadi dua wilayah perintisan. Pertama, wilayah Timur yang meliputi Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Semanu. Kedua, wilayah utara meliputi Kecamatan Semin dan Kecamatan Ngawen.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/08/daihatsu-xenia-masuk-jurang-di-jalan.html

Di Kecamatan Karangmojo dan Ponjong, jejak awal dimulai dengan kedatangan seorang pemuda bernama Tarsisius Karim dari Semanu, Gunungkidul. Pak Karim mendapat tugas dari Yayasan Kanisius Semarang untuk mendirikan Sekolah Rakyat (SR) Kanisius di Desa Kelor. Pada masa itu, kondisi masyarakat yang sebagian masih buta huruf sangat bisa dimaklumi, karena pemerintah kolonial Belanda hanya mengizinkan anak-anak perangkat desa untuk bersekolah. Di Kemudian hari, Bapak Tarsisius Karim lebih dikenal sebagai Bapak Darmo Suprapto atau Mbah Darmo.

‎Selain mengajar, ia memanfaatkan waktunya untuk mewartakan Injil dan menaburkan benih Iman Katolik di pedukuhan Kelor dan sekitarnya. Kegiatan doa bersama tidak pernah terputus, seminggu sekali umat diajak berkumpul dan berdoa di rumah Pak Darmo, sementara untuk merayakan Ekaristi di hari Minggu, umat merayakan di Wonosari.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/08/ini-pesan-bupati-dalam-lustrum-iv.html

Seiring bertambahnya jumlah umat, rumah Pak Darmo tak lagi mampu menampung kegiatan peribadatan, sehingga mulai dipikirkan rencana untuk membangun sebuah tempat khusus untuk berdoa yaitu kapel. Gagasan tersebut mulai diwujudkan pada tahun 1972 dengan dirintisnya pembangunan sebuah kapel di desa Kelor.

Melihat jumlah umat yang terus bertambah berkat usaha gigih Bruder Kirjo Utomo, SJ bersama umat, kapel dapat dibangun dan akhirnya direnovasi menjadi Gereja pada tahun 1990 dan tetap berdiri kokoh hingga saat ini. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, yakni sekitar tahun 1930 di daerah Timur Laut Gunungkidul, tepatnya di Kecamatan Ngawen, datang pula seorang pedagang dari daerah Wedi, Klaten bernama Ignasius Harjo Sanjoyo.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/08/kecelakaan-adu-banteng-di-playen.html

Melalui perjumpaan dengan warga, tidak hanya terjadi “dialog niaga” tetapi juga berkembang menjadi “dialog agama / kepercayaan”. Dari sinilah benih iman Katolik perlahan tumbuh di Ngawen, yang kemudian menyebar ke barat di Dusun Wonosari Desa Jurangjero, dan ke Timur Tenggara, melingkupi daerah Sambeng, Tobong, Logantung dan Semin.

‎Sementara itu, benih Iman di Wilayah Candirejo berasal dari Keluarga Fransiskus Xaverius Harjo Suwito. Ketika Putri pertamanya yang bernama Warmilah dibaptis di Semarang sekitar tahun 1934, ia membawa dan menaburkan benih iman itu saat ia pulang ke Candirejo, yang pada akhirnya menuntun adik-adiknya beserta kedua orang tuanya untuk dibaptis.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/08/ini-alasan-kadipaten-pakualaman-lakukan.html

Perkembangan umat semakin besar, bahkan pada Tahun 1966 setelah peristiwa G30S/PKI, tercatat ada hampir 200 orang yang dibaptis. 

‎Sampai dengan tahun 1967, di daerah Timur Laut dan Utara ini telah bertumbuh tiga ‘Stasi’ yaitu Ngawen, Semin dan Sambeng. Pada awalnya, ketiga stasi tersebut menjadi bagian dari Paroki Wedi, baru pada rentang tahun 1968 hingga 1969 ketiga stasi tersebut secara resmi dimasukkan ke dalam wilayah Gerejawi Paroki St. Petrus Kanisius Wonosari.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/08/kecelakaan-beruntun-libatkan-tiga.html

Perkembangan iman juga terus berlanjut di dusun Wonosari. Sepanjang tahun 1967, umat di Wonosari secara berkala mendapat ‘kunjungan’ dari seorang perangkat desa Jurangjero, yang telah menjadi Katolik dan menjadi umat stasi Ngawen. Kunjungan ini membuahkan hasil dengan semakin bertumbuhnya iman Katolik di Dusun Wonosari.

‎Mulai tahun 1968, seluruh stasi di bagian Timur dan Timur Laut Gunungkidul yaitu Kelor, Jaranmati, Semin, Sambeng, Ngawen dan Wonosari telah disatukan ke dalam reksa pastoral Gereja Paroki St. Petrus Kanisius Wonosari.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/07/jambret-tas-pesepeda-di-jembatan.html

Memasuki era 1990-an, tata penggembalaan umat semakin ‘maju’ dengan adanya pembagian wilayah Paroki Wonosari menjadi tiga. Wilayah Tengah berpusat di Wonosari, Wilayah Barat berpusat di Bandung-Playen dan Wilayah Timur berpusat di Kelor.

Masing-masing wilayah tersebut telah memiliki struktur kepengurusan yang lengkap dan seragam. Puncaknya pada Tanggal 1 Januari 1998, bersamaan dengan Wilayah Barat yaitu Bandung dan Wilayah Timur yaitu Kelor ditetapkan sebagai Paroki Administratif.

Baca juga: https://www.inanews.id/2026/07/ini-alasan-abdi-dalem-kadipaten.html

Selama menyandang status Paroki Administratif, umat Kelor dinilai terus berkembang dengan sangat baik. Hingga akhirnya, pada hari Rabu Legi tanggal 2 Agustus 2006, Keuskupan Agung Semarang meresmikan Paroki Administratif Kelor menjadi Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor. Pada saat pengukuhan paroki, umat paroki tercatat ada 944 Kepala Keluarga yang terdiri dari 2.618 jiwa dan tersebar di 6 wilayah.

‎Kini, setelah 20 tahun, umat Paroki Kelor tercatat mencapai 2.521 jiwa dari 1,017 Kepala Keluarga, yang tersebar di 39 lingkungan dalam 8 wilayah yaitu Kelor, Jaranmati, Wiladeg, Semin, Sambeng, Candirejo, Ngawen dan Wonosari Jurangjero.

‎(WAP)

© Copyright 2022 - INANEWS